Inilah Candi-candi Peninggalan Masa Lalu Tertinggi di Indonesia - INDEPHEDIA.com

Header Ads

Inilah Candi-candi Peninggalan Masa Lalu Tertinggi di Indonesia

Kompleks Candi Dieng

INDEPHEDIA – Di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah ada banyak candi-candi yang ditemukan. Peninggalan peradaban masa lalu di Indonesia ini beberapa di antaranya bahkan menjadi ujung tombak pariwisata Indonesia, seperti Candi Borobudur, Ratu Boko dan Prambanan.

Kebanyakan candi-candi di Yogyakarta dan Jawa Tengah peninggalan kerajaan Mataram Kuno. Apabila dataran tinggi merupakan salah satu tujuan wisata, maka ada beberapa candi yang juga dibangun di ketinggian. Berikut sejumlah candi tertinggi di Indonesia yang INDEPHEDIA rangkum.

1. Candi Ijo

Candi Ijo adalah yang tertinggi di Yogyakarta karena berdiri di tengah hamparan bukit dengan ketinggian rata-rata 425 mdpl. Saat ini Candi Ijo tengah naik daun karena menyajikan panorama sunset yang begitu indah.

Candi ini hampir selalu dipadati banyak wisatawan pada sore hari yang cerah. Lokasi yang juga berdekatan dengan destinasi favorit lainnya, yakni Tebing Breksi semakin menaikkan pamor Candi Ijo ini. Berbeda dengan tiga candi sebelumnya, Candi Ijo ini diperkirakan dibangun pada abad ke-10 sampai abad ke-11 masehi ketika masa Mataram Kuno.

2. Kompleks Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Kompleks Candi Gedong Songo ini berada di ketinggian sekitar 1.200 sampai 1.400 mdpl dan merupakan salah satu destinasi wisata utama Kabupaten Semarang.

Walaupun dari namanya berarti ada sembilan bangunan candi, tetapi sekarang hanya ada lima bangunan candi, yakni Candi Gedong I sampai Candi Gedong V. Kompleks candi ini cukup luas sehingga dibutuhkan waktu satu jam untuk berjalan kaki menjelajahinya.

3. Kompleks Candi Dieng

Di Dataran Tinggi Dieng terdapat kompleks candi yang menempati dataran pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kompleks candi tersebut meliputi Candi Arjuna, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca yang diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9 lampau.

Selain 3 candi yang disebutkan di atas, ada pula candi-candi lain seperti Candi Srikandi, Candi Sembadra, dan Candi Semar. Penamaan candi-candi itu berdasarkan tokoh-tokoh pewayangan dalam kisah Mahabarata.

4. Candi Kethek

Candi Kethek, Karanganyar, Jawa Tengah diperkirakan dibangun sekitar abad 15-16 masehi, berada di lereng barat Gunung Lawu. Candi Kethek ini juga merupakan salah satu candi tertinggi di Indonesia karena berada pada ketinggian kurang-lebih 1.500 mdpl.

Candi Kethek letaknya cukup tersembunyi. Akses sampai ke lokasi candi hanya bisa dilakukan dengan berjalan sejauh sekitar 300 meter dari area parkir. Bentuk candi Kethek juga unik, yakni semacam punden berundak dan tanpa stupa seperti candi di Jawa Tengah lainnya.

5. Candi Cetho

Candi Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah terletak sekitar 300 meter dari Candi Kethek. Candi ini kini menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Karanganyar.

Candi Cetho selalu ramai dikunjungi wisatawan ketika hari libur. Candi Cetho berada di ketinggian yang hampir sama dengan Candi Kethek. Mereka yang akan menuju Candi Kethek harus melalui candi yang juga diperkirakan dibangun sekitar abad 15-16 masehi.

6. Candi Sukuh

Candi Sukuh terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, berada di ketinggian sekitar 1.100 mdpl. Candi Sukuh juga merupakan candi yang berlokasi di sisi barat Gunung Lawu. Candi ini sekarang juga merupakan destinasi wisata andalan Kabupaten Karanganyar.

Meski diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan Candi Cetho dan Candi Kethek, letak Candi Sukuh berjarak sekitar 11 kilometer dari kedua candi tersebut jika ditempuh melalui jalan utama.

Candi ini bentuknya juga berbeda dari candi-candi lainnya. Bentuknya sekilas mirip dengan Kuil Suku Maya di Benua Amerika. Keunikan arsitektur inilah yang menjadi nilai tersendiri bagi Candi Sukuh. (*)

No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).