Situs Prasejarah Austronesia Ditemukan Arkeolog di Nabire Papua - INDEPHEDIA.com

Header Ads

Situs Prasejarah Austronesia Ditemukan Arkeolog di Nabire Papua



INDEPHEDIA.com - Situs zaman prasejarah Austranesia ditemukan Tim peneliti dari Balai Arkeologi Papua yang melakukan penelitian di Pulau Kapotar, Distrik Kepulauan Moora, Kabupaten Nabire tahun 2018 lalu.

Situs yang kemudian dikenal dengan nama Situs Momorikotey ini merupakan bukti kehadiran manusia prasejarah Austronesia di pesisir Nabire sekitar 3000 tahun yang lalu. Artefak yang menjadi bukti pengaruh budaya Austronesia di wilayah pesisir Nabire, yaitu gerabah, batu tumbuk, alat batu obsidian, alat kerang conus dan gerabah lapita.

Temuan Artefak dan Gigi Manusia Prasejarah

Selain temuan artefak, di situs ini peneliti juga ditemukan gigi manusia prasejarah dengan karakter double-shoveling yang menunjukkan karakter gigi populasi Mongoloid dari Asia. Temuan alat serpih obsidian dan gerabah bermotif Lapita menunjukkan bahwa telah terjadi pelayaran dan perdagangan jarak jauh.

Budaya Lapita berkembang pada 3500 hingga 2500 tahun yang lalu. Alat serpih obsidian dan gerabah Lapita hanya didapatkan di Kepulauan Solomon, artefak ini merupakan komoditas perdagangan, kemungkinan melalui serangkaian pertukaran dengan komoditas setempat.

Budaya Bahari

Manusia penutur Austronesia yang menghuni Situs Momorikotey mengembangkan budaya bahari, hal ini diketahui dari pecahan gerabah hias motif jala dan motif tulang ikan serta sampah sisa makanan berupa cangkang moluska dan tulang ikan.

Perahu merupakan alat transportasi yang efektif untuk mengangkut gerabah dalam jumlah banyak. Sisa makanan, berupa cangkang moluska dan tulang ikan menggambarkan bahwa kehidupan mereka mencari hasil laut untuk dikonsumsi.

Temuan gigi dan rahang binatang marsupial (kuskus dan tikus tanah) membuktikan mereka juga berburu binatang yang ada di pulau. Temuan taring babi menunjukkan bahwa mereka juga mengkonsumsi babi.

Babi hewan mamalia hanya terdapat di daratan Papua, sedangkan jenis mamalia yang terdapat di pulau hanya kuskus dan tikus tanah saja. Keberadaan gigi dan taring babi di Situs Momorikotey menunjukkan binatang ini didatangkan dari luar, Pulau Kapotar sangat kecil dan tidak memungkinkan babi hidup liar atau dipelihara di pulau ini.

Hal ini membuktikan pada masa lalu telah terjadi tukar menukar komoditas dengan masyarakat daratan Papua atau daya jelajah dalam berburu mencapai daratan Papua.

Temuan batu tumbuk berbentuk lonjong berfungsi untuk menghaluskan dalam lumpang batu, selain itu batu tumbuk berukuran kecil berfungsi untuk menumbuk biji pinang yang diramu dengan kapur dan dalam ruas bambu kering atau tempurung kelapa.

Batu tumbuk bulat digunakan untuk memecahkan cangkang kerang. Manusia penutur Austronesia di Pulau Kapotar membudidayakan keladi, pisang, sirih dan pinang. Mereka tidak mengenal budaya menanam biji-bijian terutama padi, hal ini kemungkinan karena kondisi pulau kecil yang tidak memungkinkan untuk bercocok tanam padi. (***)

No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).