Sejarah Salakanagara, Negara Perak, Kerajaan Tertua di Nusantara - INDEPHEDIA.com

Header Ads

Sejarah Salakanagara, Negara Perak, Kerajaan Tertua di Nusantara



Di samping wilayah peradaban, Salakanagara merupakan leluhur Suku Sunda diperkuat adanya kesamaan kosakata antara Sunda dan Salakanagara.

INDEPHEDIA.com - Dalam catatan sejarah ada beberapa kerajaan tertua di Indonesia, di antaranya Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Melayu, Tulang Bawang (Lampung), dan lainnya. Di Pulau Jawa, disebutkan sebelum berdirinya Kerajaan Tarumanegara ternyata berdiri kerajaan bernama Salakanegara atau disebut "Negara Perak".

Kerajaan Salakanagara diperkirakan kerajaan tertua dan paling awal yang ada di Nusantara. Salakanagara didirikan pada tahun 52 Saka (130/131 Masehi) dan diyakini sebagai leluhur Suku Sunda. Hal itu dikarenakan wilayah peradaban Salakanagara sama persis dengan wilayah peradaban orang Sunda selama berabad-abad.

Di samping wilayah peradaban, Salakanagara merupakan leluhur Suku Sunda diperkuat adanya kesamaan kosakata antara Sunda dan Salakanagara. Di samping itu, ditemukan bukti lain, berupa Jam Sunda atau Jam Salakanagara, suatu cara penyebutan waktu atau jam yang juga berbahasa Sunda.

Pendiri Salakanagara, Dewawarman, seorang duta keliling, pedagang sekaligus perantau dari Pallawa, Bharata (India), yang akhirnya menetap karena menikah dengan puteri penghulu setempat.

Selain Salakanagara, pendiri Tarumanagara disebutkan bernama Maharesi Jayasingawarman pengungsi dari wilayah Salankayana, Bharata, karena daerahnya dikuasai Magada. Sementara, Kerajaan Kutai didirikan oleh pengungsi dari Magada, Bharata setelah daerahnya juga dikuasai oleh kerajaan lain.




Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyrè oleh Ptolemeus dalam tahun 150, dikarenakan Salakanagara diartikan sebagai "Negara Perak" dalam bahasa Sansakerta. Kota ini terletak di daerah Teluk Lada, Pandeglang, Banten.

Pandeglang, kota yang terkenal dengan hasil logamnya. Pandeglang dalam bahasa Sunda singkatan dari kata-kata panday (pandai) dan geulang yang artinya pembuat gelang. Letak ibukota kerajaan ini diperkirakan yang menjadi kota Merak sekarang (Merak dalam bahasa Sunda artinya membuat perak).

Prasasti yang berumur 1600 tahun yang berasal dari zaman Purnawarman, raja Tarumanagara, yang ditemukan di Kelurahan Tugu, Jakarta, adalah sangat mungkin bahwa Argyre atau Argyros pada ujung barat yang disebutkan Claudius Ptolemaeus Pelusiniensis (Ptolemy) dari Mesir (87-150 AD) dalam bukunya “Geographike Hypergesis” adalah Salakanagara.

Suatu laporan dari China pada tahun 132 menyebutkan Pien, raja Ye-tiau, meminjamkan stempel mas dan pita ungu kepada Tiao-Pien. Kata Ye-tiau ditafsirkan oleh G. Ferrand, seorang sejarawan Perancis, sebagai Javadwipa dan Tiao-pien (Tiao= Dewa, Pien= Warman) merujuk kepada Dewawarman.

Berdirinya Kerajaan Salakanagara

Adalah Aki Tirem, penghulu atau penguasa kampung setempat yang akhirnya menjadi mertua duta dari Pallawa Dewawarman ketika puteri Sang Aki Luhur Mulya bernama Dewi Pohaci Larasati diperisteri Dewawarman. Hal ini membuat semua pengikut dan pasukan Dewawarman menikah dengan wanita setempat dan tak ingin kembali ke kampung halamannya.

Ketika Aki Tirem meninggal, Dewawarman menerima tongkat kekuasaan. Tahun 130 Masehi ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan dengan nama Salakanagara beribukota di Rajatapura.

Ia menjadi raja pertama dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara. Beberapa kerajaan kecil di sekitarnya menjadi daerah kekuasaannya, antara lain Kerajaan Agninusa (Negeri Api) yang berada di Pulau Krakatau.

Rajatapura menjadi ibukota Salakanagara yang hingga tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII). Salakanagara berdiri hanya selama 232 tahun, tepatnya dari tahun 130 Masehi hingga tahun 362 Masehi. Raja Dewawarman I sendiri hanya berkuasa selama 38 tahun dan digantikan anaknya yang menjadi Raja Dewawarman II dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra.

Prabu Dharmawirya tercatat sebagai Raja Dewawarman VIII atau raja Salakanagara terakhir hingga tahun 363 karena sejak itu Salakanagara telah menjadi kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Tarumanagara yang didirikan tahun 358 Masehi oleh Maharesi yang berasal dari Calankayana, India bernama Jayasinghawarman. Pada masa kekuasaan Dewawarman VIII, keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, makmur dan sentosa, sedangkan kehidupan beragama sangat harmonis.

Di Banten Selatan, banyak sekali cerita yang menyuguhkan tentang sejarah yang sangat menarik untuk di teliti. Salah satunya sejarah Kerajaan Salakanagara yang masih kontraversi para ahli sejarah dan ahli arkeologi.

Tempat-tempat seperti situs Cihunjuran, Citaman, Pulosari dan Ujung Kulon merupakan tempat yang dapat menyibak dan menyimpan banyak hal tentang keberadaan Kerajaan Salakanagara ini. Di Cihunjuran misalnya, di tengah hamparan persawahan terdapat beberapa batu-batu purba (menhir) serta kolam-kolam pemandian purba, tepatnya seperti zaman Megalitikum. (SJ.MOE/*)

No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).