-->

Politik Etis dan Jejak Kolonisasi Pertama di Indonesia (1)

 

Ernest Douwes Dekker (Tengah)

INDEPHEDIA.com - Kolonisasi pertama di Indonesia yang penempatannya dilaksanakan di Lampung, ujung selatan Pulau Sumatera saat itu, tidak terlepas dari kebijakan politik etis.

Adanya politik etis bermula dari timbulnya berbagai kritik, terutama golongan liberal di negeri Belanda terhadap kebijaksanaan pemerintahannya menyangkut bangsa jajahan, khususnya Indonesia.

Kritikan itu, semula disampaikan kaum oposisi tahun 1860. Kemudian kritik ini menjadi luas lagi. Sebab, selain dari oposisi juga datang dari beberapa tokoh yang memang bersimpati terhadap rakyat dan bangsa Indonesia.

Munculnya kaum etis yang dipelopori Pieter Brooshooft, seorang wartawan Koran De Locomotief dan C. Th. van Deventer (politikus), ternyata membuka mata pemerintah kolonial Belanda untuk dapat lebih memperhatikan nasib pribumi yang kehidupan mereka dianggap masih terbelakang.

Banyak pihak, menghubungkan kebijakan baru politik Belanda ini dengan pemikiran dan tulisan-tulisan C. Th. van Deventer. Sehingga ia dikenal sebagai pencetus politik etis.

Selain C. Th. van Deventer, Baron van Hoevell serta Vitalis, tokoh dari oposisi menegaskan, perkembangan dari usaha bisa mendatangkan kemakmuran bagi negara-negara jajahan Belanda, termasuk bangsa Indonesia.

Buku Max Havelaar, karangan Ernest Doewes Dekker, kakek paman EF. E. Doewes Dekker pimpinan Indische Party yang memiliki nama samaran Multatuli, memberikan informasi yang bersifat objektif tentang masyarakat Indonesia kepada warganya di negeri Belanda.

Ernest Douwes Dekker, salah seorang mediasi potret kehidupan rakyat yang terjajah melalui tulisannya. Ia seorang asisten residen di daerah Lebak, Banten.

Sebagai seorang Belanda yang bermukim di Indonesia, ia banyak bergaul dan berinteraksi dengan warga pribumi. Dia kemudian menulis bagaimana situasi dan kondisi kala itu.

Bukunya yang cukup banyak menarik perhatian tersebut, di salah satu bagiannya mengisahkan tentang kehidupan petani teh yang mendapat tekanan berat dari pejabat pemerintah Hindia Belanda.

Asisten Residen Ernest Douwes Dekker, termasuk salah satu tokoh yang menentang ekses pelaksanaan politik ini. Karena, meneruskan pandangan pemerintah kolonial Belanda, mereka memandang hanya orang pribumi yang harus ditolong.

Padahal, menurut pandangannya, seharusnya politik etis ditujukan pula untuk semua penduduk asli Hindia Belanda (Indiers), yang didalamnya termasuk orang Eropa yang menetap (Blijvers) dan Tionghoa.

Penggagas politik balas budi semasa penjajahan Hindia Belanda di Indonesia yang dikenal dengan nama penanya Multatuli ini, memang dikenal cukup kritis. Selain idealis, ia dinilai memiliki jiwa sastra yang tinggi.

Pandangan dan perasaannya telah terungkap dalam buku yang ditulisnya tersebut. Laporannya, turut pula menggerakkan hati pemimpin tertinggi bangsa kolonial, hingga akhirnya mau menurunkan kebijakan politik etis.

Max Havelaar, ditulis Multatuli dalam tahun 1859 di sebuah losmen di Belgia. Buku yang ditulis dengan gaya bahasa ala Multatuli itu, di Indonesia diterjemahkan oleh H. B. Jassin langsung dari bahasa aslinya Belanda.

Buku ini, disusun dari pengalaman pribadi E. D. Dekker di Bumi Putera –sebutan Indonesia zaman dulu–, tepatnya di daerah Lebak, tempat dia menjabat sebagai asisten residen.

Sebagai pejabat pemerintahan yang langkahnya justru pro rakyat, ia dapat melihat dengan dekat ketidakadilan serta penindasan terhadap penduduk setempat.

Tak heran, apabila didalam buku tersebut isinya mengandung gugatan tajam terhadap pemerintahan Hindia Belanda atas penderitaan Bumi Putra.

Jeniusnya, Multatuli membungkus buku yang mengandung gugatan tersebut dengan gaya tulisan sebuah roman dengan keindahan bahasanya.

Buku karya Ernest Douwes Dekker, diakui sebagai sebuah karya sastra Belanda yang sangat penting. Isinya dianggap mempelopori gaya tulisan baru.

Di Indonesia, karyanya sangat dihargai. Sebab, untuk pertama kalinya pula karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Isi bukunya, bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum Bumi Putra.

Buku Max Havelaar, karya besar yang juga diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia. Di salah satu bagiannya, memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca. Sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.

Didalam buku itu, terantuk paragraf sebuah puisi dari Saijah ketika akan berpisah dengan Adinda:

Bila aku mati di Badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke Timur di kaki bukit yang rumputnya tinggi;
Maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan
mengingsut mendesir rumput....
Aku akan mendengarnya.


Atau sajaknya Saijah saat menanti Adinda ditutup dengan:

Maka malaikat melihat mayatku
Diberitahunya saudara-saudaranya, ditunjuknya mayatku dengan jarinya
“Lihatlah, nun jauh di sana ada seorang mati terlupa
Mulutnya kejang mencium kembang melati
Marilah, kita angkat dia kita bawa ke surga
Orang yang menunggu Adinda sampai mati
Sungguh, ia tak boleh tinggal sendiri
Orang yang matinya begitu keras mencinta
Maka sekali lagi mulutku kejang akan membuka
Untuk memanggil Adinda yang kucinta
Sekali lagi kukecup melati
Yang dia berikan..... Adinda..... Adinda!


Di akhir bukunya, Multatuli menekankan tujuan dari penulisannya dengan kalimat:

Aku mau dibaca!
Ya, aku mau dibaca! Aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiban perhatikan pada tanda-tanda zaman. Oleh sastrawan-sastrawan yang juga harus membaca buku itu yang begitu banyak dijelek-jelekkan orang...

Ya, aku bakal dibaca!
Maka akan kuterjemahkan bukuku dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak...
Dan akan kulontarkan lagu-lagu perang pengasah kelewang ke dalam sanubari pejuang-pejuang syahid...
Dalam penutupan bukunya, Multatuli menggambarkan bangsa Indonesia dengan sangat indah;
… yang melingkar nun di sana di khatulistiwa laksana sabuk jamrud…. Di tutup dengan kalimat; … saya pikir akan menggetarkan hati seorang pemimpin, dengan sentuhan yang dalam di mana buku ini ditulis untuknya...


Bersambung Bagian 2

*) Dikutip dari Buku "Land Use Planning, Jejak Kolonisasi Pertama di Indonesia", Penulis: Akhmad Sadad (Pemimpin Redaksi Indephedia.com / Pendiri Iphedia Network).


Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Biasakan berkomentar dengan nama yang jelas. Berkomentar dengan UNKNOWN atau SPAM akan dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top