-->
Alam dan Kita
Alam dan Kita

Tercatat di Berita dari Arab dan China, Ini Lokasi Kerajaan Sabak Menurut Peneliti dan Sejarawan

 
Peta kuno Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Semenanjung Malaya (Foto: Ist)

INDEPHEDIA.com - Salah satu kerajaan yang masih misteri dan belum ditemukan dengan pasti pusat kerajaannya hingga kini adalah Kerajaan Sabak. 

Melansir Wikipedia, Sabak sebuah kerajaan kuno yang menurut beberapa sumber berada di perairan antara Tiongkok dan India. 

Sampai saat ini nama dan lokasi pasti dari Kerajaan Sabak masih menjadi bahan perdebatan di antara para peneliti. 

Beberapa ada yang mengajukan Kalimantan dan Filipina sebagai pusat kerajaan Sabak. Namun, mayoritas sejarawan menafsirkan Zabaj sebagai wilayah Jawa saat ini. 

Sejumlah studi juga menghubungkan kerajaan ini dengan Sriwijaya, dan memperkirakan lokasinya berada di suatu tempat di Jawa, Sumatera, atau Semenanjung Malaya. 

Beberapa sejarawan mengatakan Zabag dalam bahasa Arab sama dengan Javaka dalam teks-teks berbahasa Pali. Wilayah ini termasuk ke dalam Kerajaan Sriwijaya. 

Teks dari Srilangka menceritakan bahwa Raja Chandrabhanu Sridhamaraja yang menguasai Kerajaan Tambralinga, Srilangka, salah satu pangeran Javaka. 

Dalam cerita itu disebutkan, Chandrabhanu Sridhamaraja menduduki tahta setelah Javaka menginvasi Srilangka tahun 1247.

Beberapa sejarahwan Indonesia mengatakan Zabag sama dengan Sabak (Muara Sabak), sebuah kerajaan yang terletak di muara Sungai Batang Hari, Jambi.

Menurut Mansoer dkk (1970), dalam berita China lama dikatakan San-fo-tsi sebagai bandar yang sering dikunjungi oleh saudagar-saudagarnya untuk membeli lada. 

Ponetik kata ’san-fo-tsi’ tidak jauh sekali dengan bunyi ’tembesi’. Bandar Sriwijaya Tua (Jambi) yang utama ialah Muara Sabak.

Dalam pemberitaan Arab dikata Zabaq. Orang Arab mentranskribir Sriwijaya sebagai Sribuzza, dan berita China menuliskan Che-li-fo-che. 

Dari berita-berita ini menyebutkan, kerajaan tua yang mempunyai bandar-bandar penting di Sumatera, yakni Kerajaan Melayu Tua yang berpusat di Muara Tembesi.

Daerah sebelah selatan Jambi mulai berperan penting sebagai produsen lada. Dengan bantuan armada China T’ang, San-fo-tsi mendirikan pangkalan di sana, sekitar 683 Masehi. 

Waktu itu hubungan antara Khalifah Ummayyah dan Kerajaan Sriwijaya sangat erat, terutama dalam perdagangan dan mengenalkan ajaran Islam.

Suatu ketika terjadi revolusi istana yang didalangi oleh angkatan laut China mengakibatkan terbunuhnya Sri Maharaja Indrawarman. 

Sementara, Syria di tahun 750 berhasil menghalangi kekuasaan Khalifah Ummayyah di Damsyik dan menghalangi mereka mengirimkan bantuan militer ke Sabak. 

Sejak saat itu dakwah Islam di negeri Sabak terhenti selama lebih kurang lebih 400 tahun. Di abad ke-13 Masehi penyebaran Islam mulai masuk kembali ke wilayah ini.

Sumber lain menyampaikan, Che-li-fo-che, Sriwijaya/Jambi, Muara Sabak, diapit oleh Melayu Tua dan Muara Tembesi di utara dan Palembang di sebelah selatan. 

Sabak dicatat menganeksasi Sriwijaya, dan ukuran Sabak hanya setengah dari ukuran pulau yang disebut Ramni (Sumatera). (*)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Biasakan berkomentar dengan nama yang jelas. Berkomentar dengan UNKNOWN atau SPAM akan dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

Back to Top