Kontroversi Dapunta Hyang Sri Jayanasa, Raja Pertama Kerajaan Sriwijaya - INDEPHEDIA.com

Header Ads

Kontroversi Dapunta Hyang Sri Jayanasa, Raja Pertama Kerajaan Sriwijaya

Dapunta Hyang Sri Jayanasa

Dapunta Hyang berangkat dalam perjalanan suci siddhayatra untuk "mengalap berkah", dan memimpin 20.000 tentara dan 312 orang di kapal dengan 1.312 prajurit berjalan kaki dari Minanga Tamwan menuju Jambi dan Palembang.

INDEPHEDIA - Sejumlah sejarawan menduga pendiri atau raja pertama Kerajaan Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Betulkah dugaan tersebut? Kenapa raja pertama Kerajaan Sriwijaya jadi kontroversi? Jika dikatakan salah, sebetulnya sulit untuk menyebutkan siapa sebenarnya pendiri Kerajaan Sriwijaya yang sesungguhnya. Sebab, sejauh ini yang dikenal raja pertama Kerajaan Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Sesuai dengan catatan I Tsing, Kemaharajaan Sriwijaya telah ada sejak 671. Sementara, dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Disebutkan pada prasasti itu, Dapunta Hyang berangkat dalam perjalanan suci siddhayatra untuk "mengalap berkah", dan memimpin 20.000 tentara dan 312 orang di kapal dengan 1.312 prajurit berjalan kaki dari Minanga Tamwan menuju Jambi dan Palembang.

Diketahui, Prasasti Kedukan Bukit prasasti tertua yang ditulis dalam bahasa Melayu. Sejumlah ahli berpendapat prasasti ini mengadaptasi ortografi India untuk menulis prasasti ini. Akan tetapi, dengan berlalunya zaman dan timbulnya penemuan baru, rupanya ada sedikit cahaya terang yang menginfokan mengenai Raja Sriwijaya sebelum Dapunta Hyang Sri Jayanasa, penjelasan tersebut termaktub dalam naskah Wangsakerta.

Dalam Naskah Wangsakerta (Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa) dikabarkan Dapunta Hyang merupakan menantu dari Raja Tarumanegara (Sunda), anak Raja Swarnabumi. Tapi, lagi-lagi dalam naskah ini juga ternyata tidak disebutkan siapa nama ayah Dapunta Hyang yang menjadi Raja Sriwijaya sebelum Dapunta Hyang menjabat itu.

Memang dugaan sejarawan mengenai Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang dipercaya sebagai pendiri Kerajaan Sriwijaya didasarkan pada penemuan Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti itu berupa batu kecil berukuran 45×80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno, dan didalamnya hanya memuat 10 baris tulisan saja.

Meskipun prasasti di atas tidak secara spesifik menjelaskan mengenai Dapunta Hyang sebagai pendiri Kerajaan Sriwijaya, namun rupanya tanggal waktu penulisan dan kejadian beserta nama tokoh yang muncul dalam prasasti tersebut dianggap titik tolak pembentukan Kerajaan Sriwijaya dan raja pertamanya.

Sebagaimana diketahui, Prasasti Kedukan bukit bertahun 605 Saka atau 683 Masehi ini dianggap sebagai tahun pendirian Kerajaan Sriwijaya, sementara tokoh Dapunta Hyang yang terdapat dalam prasasti itu disimpulkan sebagai raja Siriwijaya pertama.

Selain itu, beberapa prasasti lain yang ditemui juga menceritakan Siddhayatra dan penaklukkan wilayah sekitar oleh Sriwijaya, yaitu prasasti yang ditemukan di Kota Kapur di Pulau Bangka (686 masehi), Karang Brahi di Jambi Hulu (686 masehi) dan Palas Pasemah di selatan Lampung, semua menceritakan peristiwa yang sama.

Dari keterangan prasasti-prasasti ini, ada pendapat yang menyebut kalau Dapunta Hyang mendirikan Kerajaan Sriwijaya setelah mengalahkan musuh-musuhnya di Jambi, Palembang, Selatan Lampung dan Pulau Bangka, dan bahkan melancarkan serangan ke Bhumi Jawa yang mungkin menyebabkan keruntuhan Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat. (***)

1 comment:

  1. Orang orang yg berpendapat dapuntahyang mendirikan kerajaan sriwijaya setelah mengalahkan musuh musuhnya di palembang th 678, jambi dan bangka 686 lampung 686 adalah orang orang yg buta dan tuli sejarah sriwijaya. Mereka tidak tahu catatan dinasti Tang th 670 tidak tahu catatan itsing th 671 dan tidak tau prasasti kedukan bukit, kota kapur bangka dll. Penaklukan bangka jambi dan lampung melayu/ minangatamwan dan kedah adalah perluasan wilayah kerajaan Sriwijaya.
    Artinya Sriwijaya sudah berdiri jauh sebelum perluasan wilayah ke jambi, melayu, bangka dan kampung.

    ReplyDelete

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).