Sejarah Mesir Kuno dari Berdiri Hingga Ditaklukkan Romawi - INDEPHEDIA.com

Header Ads

Sejarah Mesir Kuno dari Berdiri Hingga Ditaklukkan Romawi

Piramida, Mesir
INDEPHEDIA - Rentetan jejak sejarah Mesir Kuno meliputi kurun waktu sejak berdirinya permukiman-permukiman pradinasti di utara Lembah Sungai Nil hingga Mesir ditaklukkan oleh Bangsa Romawi pada 30 SM. Zaman firaun diperkirakan bermula sekitar 3200 SM, yakni sejak kawasan Hulu dan Hilir Mesir bergabung menjadi satu negara sampai jatuh ke tangan Bangsa Makedonia pada 332 SM (Sebelum Masehi).

Mesir Kuno dalam runutan sejarahnya dibagi menjadi beberapa kurun waktu berdasarkan masa kekuasaan wangsa-wangsa firaun. Penetapan waktu terjadinya peristiwa-peristiwa penting masih terus diteliti. Penetapan waktu yang konservatif sama sekali tidak didukung tanggal pasti yang dapat dipercaya untuk kurun waktu tiga milenia. Berikut ini pembagian kurun waktu sejarah Mesir Kuno menurut Kronologi Mesir konvensional.

    Zaman Pradinasti (Sebelum 3100 SM)
    Zaman Protodinasti (Diperkirakan 3100–3000 SM)
    Zaman Dinasti Awal (wangsa pertama sampai wangsa ke–2)
    Zaman Kerajaan Lama (wangsa ke-3 sampai wangsa ke-6)
    Zaman Antara Pertama (wangsa ke-7 sampai wangsa ke-11)
    Zaman Kerajaan Pertengahan (wangsa ke-12 sampai wangsa ke-13)
    Zaman Antara Kedua (wangsa ke-14 sampai wangsa ke-17)
    Zaman Kerajaan Baru (wangsa ke-18 sampai wangsa ke-20)
    Zaman Antara Ketiga (wangsa ke-21 sampai wangsa ke-25) (Periode Libya)
    Zaman Akhir (wangsa ke-26 sampai wangsa ke–31)

Antara 5500 sampai 3100 SM, pada Zaman Pradinasti Mesir, permukiman-permukiman kecil tumbuh subur di sepanjang tepian Sungai Nil yang bermuara ke Laut Tengah. Sekitar 3300 SM, menjelang berkuasanya Wangsa Mesir yang pertama, negeri Mesir terbagi atas dua kerajaan yang dikenal sebagai Mesir Hulu atau Ta Syemau di selatan, dan Mesir Hilir atau Ta Mehu di utara. Garis perbatasan antara dua kerajaan ini terletak kira-kira di wilayah Kairo sekarang ini.


Peradaban Tasa, bentuk peradaban berikutnya yang muncul di Mesir Hulu. Peradaban ini dinamakan menurut nama situs Deir Tasa, tempat ditemukannya sekumpulan makam kuno. Deir Tasa terletak di tepi timur Sungai Nil, di antara Asyut dan Akhmim. Peradaban Tasa dikenal dengan tembikar bermulut hitam terawal yang dihasilkannya, yakni jenis gerabah merah dan cokelat yang bagian mulut dan dalam wadahnya diwarnai hitam.

Peradaban Badari yang dinamakan menurut nama situs Badari, tidak jauh dari Deir Tasa, muncul setelah Peradaban Tasa. Kemiripan antara Peradaban Tasa dan Peradaban Badari membuat banyak pihak enggan membeda-bedakan keduanya. Peradaban Badari meneruskan pembuatan tembikar bermulut hitam (dengan mutu yang jauh lebih baik dibanding jenis sebelumnya), dan diberi nomor penanggalan sekuensi antara 21 dan 29.

Meskipun demikian, ada perbedaan penting antara Peradaban Tasa dan Peradaban Badari yang mencegah para cendekiawan untuk menggabungkan saja keduanya, yaitu bahwasanya situs-situs Badari telah mempergunakan alat-alat tembaga selain alat-alat batu, dan oleh karena itu merupakan pemukiman-pemukiman Zaman Tembaga, sementara situs-situs Tasa masih bercorak neolitikum, dan secara teknis dianggap masih tergolong Zaman Batu.

Peradaban Amra dinamakan menurut nama situs el-Amra, sekitar 120 km di selatan Badari. El-Amra adalah situs pertama tempat peradaban ini didapati tidak bercampur dengan Peradaban Gerza yang muncul sesudahnya. Meskipun demikian, karena peradaban ini lebih banyak didukung oleh temuan-temuan dari situs Naqada, maka disebut pula dengan nama Peradaban Naqada I.

Catatan-catatan sejarah Mesir Kuno diawali dengan menyebut Mesir sebagai suatu negara kesatuan yang terwujud sekitar 3150 SM. Menurut tradisi Mesir, Menes, yang diyakini sebagai tokoh pemersatu Mesir Hulu dan Mesir Hilir, adalah raja Mesir yang pertama. Lazimnya para egiptolog membagi kurun waktu pemerintahan para firaun mengikuti urut-urutan yang disusun pertama kali oleh Manetho dalam Aegyptiaca (Sejarah Mesir) yang ditulis semasa Wangsa Ptolemaios berkuasa pada abad ke-3 SM. (***)
loading...

No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).