Peninggalan Prasasti yang Ditemukan di Lampung dari Zaman Hindu-Budha

 
Prasasti Palas Pasemah
Di daerah Lampung, sampai saat ini sedikitnya telah ditemukan delapan prasasti yang berasal dari zaman Hindu-Budha, meliputi kurun waktu antara abad ke-7 sampai abad ke-15 Masehi.


INDEPHEDIA.com - Prasasti atau batu bertulis sering berperan sebagai sumber sezaman yang amat penting. Sebab, di dalamnya memberikan sejumlah informasi mengenai aspek-aspek kehidupan masyarakat di masa lampau.

Di daerah Lampung, hingga saat ini sedikitnya telah ditemukan delapan prasasti yang berasal dari zaman Hindu-Budha, meliputi kurun waktu antara abad ke-7 sampai abad ke-15 Masehi. Kebanyakan penamaan prasasti ini dinamakan sesuai dengan tempat ditemukannya.

Berikut INDEPHEDIA.com rangkum nama-nama prasasti yang ada di Provinsi Lampung sesuai dengan abad dan penemuannya.

1. Prasasti Bungkuk (Akhir Abad ke-7)

Prasasti Bungkuk ditemukan pada tahun 1985, di Desa Bungkuk, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur. Prasasti ini seluruhnya terdiri dari 12 dan 13 baris tulisan berhuruf Pallawa dan Melayu Kuno. Keadaanya sudah sangat aus dan rusak, beberapa baris pertama dan terakhir tidak dapat dibaca sama sekali.

Dari baris-baris yang dapat dibaca isinya berupa kutukan yang sama dengan yang terdapat pada prasasti Palas Pasemah. Prasasti Karang Brahi dan Prasasti Kota Kapur merupakan Prasasti Sriwijaya dari akhir abad ke-7.

2. Prasasti Palas Pasemah (Akhir Abad ke-7)

Prasasti Palas Pasemah telah diketahui keberadaannya pada tahun 1958, di Desa Palas Pasemah dekat Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Prasasti ini ditulis dalam 13 baris, berhuruf Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno.

Isi Prasasti Palas Pasemah hampir sama dengan isi Prasasti Karang Brahi di daerah Jambi, Prasasti Kota Kapur dari Bangka dan Prasasti Bungkuk di Lampung Timur, yang berisi kutukan yang tidak patuh dan tunduk kepada penguasa Sriwijaya. Prasasti ini tidak berangka tahun, namun berdasarkan paleografinya diperkirakan prasasti pada akhir abad ke-7.

3. Prasasti Batu Bedil (Akhir Abad ke-9 atau 10)

Prasasti ini ditemukan di Desa Batu Bedil, Kecamatan Pulau Punggung, Kabupaten Tanggamus. Prasasti dipahatkan pada sebuah batu berukuran tinggi 175 cm, lebar 60 cm, dan tebal 45 cm, sebanyak 10 baris dengan huruf Jawa Kuno akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10, berbahasa Sansekerta.

Prasasti Batu Bedil ditulis dengan huruf berukuran cukup besar (tinggi huruf sekitar 5 cm), namun karena batunya sangat using, terutama di bagian tengah maka tidak seluruhnya dapat dibaca. Dari beberapa baris yang dapat diketahui isinya semacam doa-doa yang bersifat Budhis.

4. Prasasti Hujunglangit atau Prasasti Bawang (Akhir Abad ke-10)

Prasasti Hujunglangit atau Prasasti Bawang ini terdapat di Desa Hanakau, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Penemuan pertama kali dilaporkan oleh petugas Dinas Topografi yang mengadakan pemetaan pada tahun 1912.

Oleh Tim Epigrafi Dunia Purbakala, prasasti ini disebut juga Prasasti Bawang, karena tempat penemuannya berada di wilayah Bawang. Prasati ini disebut juga Prasasti Hujunglangit, yaitu berdasarkan nama tempat yang disebutkan di dalam prasasti tersebut. 


Batu prasasti berbentuk menyerupai kerucut dengan ukuran tinggi dari permukaan tanah 160 cm, lebar bawah 65 cm, lebar atas 25 cm.

Bagian yang ditulisi prasasti permukaannya hampir rata, terdiri dari 18 baris tulisan dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno. Dari akhir abad ke 10, prasasti ini sudah aus dan tulisannya sangat tipis sehingga sulit untuk pembacaan yang menyeluruh.

Berdasarkan asalnya, kata Sa –-tanah dan sahutan dengan nama tempat Hujunglangit, dapat memberi petunjuk bahwa prasasti berkaitan dengan penetapan suatu daerah menjadi sima, daerah perdikan, seperti yang terdapat pada prasasti-prasasti yang ada di zaman Hindu-Budha. 


Penetapan suatu daerah menjadi sima, umumnya berkenaan dengan adanya suatu bangunan suci yang terdapat di suatu daerah.

Di atas bidang yang tertulis ada gambar pisau belati, ujung belati menghadap ke kanan. Gambar pisau belati ini serupa dengan belati tinggalan Kerajaan Pagaruyung yang diberi nama Si Madang Sari. 


Menurut dinamis, belati dari Pagaruyung ini dibuat pada abad XIV M, jadi sekitar 300 tahun lebih muda dari Prasasti Hujunglangit. Relief pisau dijumpai pula pada Candi Panataran, yang bentuknya serupa dengan belati Si Madang Sari.

5. Prasasti Tanjung Raya I (Sekitar Abad ke-10)

Prasasti Tanjung Raya I berbentuk lonjong berukuran panjang 237 cm, lebar di bagian tengah 180 cm dan tebal 45 cm. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1970 di Desa Tanjung Raya I, Kecamatan Sukau, Lampung Barat.

Prasasti dituliskan pada bagian permukaan batu yang keadaannya sudah aus dan rusak, terdiri dari 8 baris dan sulit dibaca namun masih dapat dikenal sebagai huruf Jawa Kuno dari abad ke-10. 


Pada bagian atas terdapat sebuah gambar berupa sebuah bejana dengan tepian yang melengkung keluar sehelai daun. Mengingat sulitnya pembacaan prasasti ini maka isinya belum diketahui.

6. Prasasti Ulubelu (Abad ke-14)

Prasasti Ulubelu dipahatkan pada sebuah batu kecil berukuran 36 x 12,5 cm, terdapat 6 baris tulisan dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ini ditemukan di Ulebelu, Rebang Pugung, Kabupaten Tanggamus pada tahun 1934. Sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Keadaan prasasti sudah tidak utuh, bagian ujung kiri dan kanan telah patah sehingga beberapa kata dan huruf sebagian hilang. Isinya berkenaan dengan pemujaan terhadap Trimurti (Batara Guru, Batara Brahma, Batara Wisnu). Diperkirakan, prasasti ini berasal dari abad ke-14 Masehi.

7. Prasasti Angka Tahun (Abad ke-14)

Prasasti Angka Tahun ditemukan pada tahun 1993 ketika diadakan eskavasi di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur. Prasasti Angka Tahun dipahatkan pada sepotong batu tufa berbentuk balok, ditulis dengan angka Jawa Kuno, menunjuk pada tahun Saka 1247 (1325 M).

8. Prasasti Dadak atau Bataran Guru Tuha (Abad ke-15)

Prasasti Dadak atau Bataran Guru Tuha ditemukan di Dusun Dadak, Desa Tebing, Kecamatan Perwakilan Melintang, Lampung Timur, pada tahun 1994.

Prasasti ditulis dalam 14 baris tulisan, di samping terdapat pula tulisan-tulisan singkat dan gambar-gambar yang digoreskan memenuhi seluruh permukaan batunya yang berbentuk seperti balok berukuran 42 cm x 11 cm x 9 cm.

Penurut peneliti, tulisan yang digunakan di dalam prasasti tersebut mirip dengan tulisan Jawa Kuno akhir dari abad ke-15 dengan Bahasa Melayu yang tidak terlalu kuno atau berbahasa Melayu Madya. (SJ/R-01)


Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Biasakan berkomentar dengan nama yang jelas. Berkomentar dengan UNKNOWN atau SPAM akan dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

Back to Top