Fakta Menarik Perayaan Cap Go Meh di Indonesia

 


Perayaan Cap Go Meh di Indonesia terbilang istimewa karena telah berakulturasi dengan budaya setempat.

INDEPHEDIA.com - Cap Go Meh dirayakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa yang tersebar di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia terbilang istimewa karena telah berakulturasi dengan budaya masyarakat setempat. 

Misalnya di Singkawang, Kalimantan Barat, adanya ritual pawai tatung, pembakaran replika naga untuk menolak bala satu kota dan lainnya yang mampu menarik wisatawan dalam maupun luar negeri.

Di Pulau Jawa, warga Tionghoa merayakan dengan Lontong Cap Go Meh, yang merupakan kuliner serapan dari ketupat lebaran. 

Lontong Cap Go Meh ini bentuknya bulat, menyerupai bulan purnama yang biasa bersinar di penanggalan 15 Cina.

Buku Hubungan Antar Suku Bangsa di Kota Pangkalpinang (2009) karya Evawarni dan ‎Sita Rohana menyebutkan, dalam kalender Masehi, Imlek berlangsung antara 21 Januari hingga 19 Februari. 

Pada hari terakhir itulah Cap Go Meh dirayakan sebagai penutup rangkaian Imlek.

Pengertian dan Sejarah Cap Go Meh

Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Tiociu atau Hokkien. “Cap Go” artinya “lima belas” sedangkan “Meh” berarti “malam”. 

Dengan demikian, pengertian Cap Go Meh secara harfiah dapat diartikan sebagai “malam kelima belas”.

Perayaan Cap Go Meh di Cina pada zaman dahulu diselenggarakan secara khusus serta tertutup. 

Tidak setiap orang bisa mengikuti acara tahunan ini, hanya bagi keluarga istana dan kalangan tertentu saja. 

Semula, perayaan ini dilakukan untuk menghormati Dewa Thai Yai, dewa tertinggi dalam tradisi Dinasti Han. 

Uniknya, penyebutan kata 'Cap Go Meh' sebenarnya populer di Indonesia, di negara lain seperti Cina, Taiwan, dan Singapura nama festival ini berbeda. 

Di Cina, nama perayaan ini adalah Yuan Xiao atau Shang Yuan. Di Barat festival ini disebut Lantern Festival (Festival Lampion atau Chinese Valentine's Day (hari Kasih Sayang versi Cina).

Cap Go Meh diprediksi sudah dirayakan sejak 2.000 tahun lalu. Sejak zaman Dinasti Han (206 Sebelum Masehi- 25 Masehi) ketika biksu Buddha harus membawa lentera untuk ritual indah.

Mereka kemudian menerbangkan lentera tersebut, sebagai simbol untuk melepas nasib lalu yang buruk dan menyambut nasib baik untuk masa mendatang. Dari sini mengapa Cap Go Meh identik dengan lentera.

Hari Kasih Sayang Versi Cina

Disebut Hari Kasih Sayang versi Cina lantaran pada zaman dahulu, perempuan yang belum menikah tidak diperkenankan meninggalkan rumah seorang diri kecuali pada perayaan Cap Go Meh.

Beberapa hari perayaan ini menjadi waktunya bersosialisasi dengan semua orang, terutama lawan jenis calon pasangan hidup. 

Menyalakan lentera juga identik dengan tanda atau harapan akan mendapat kehidupan percintaan yang lebih baik.

Akhir dari Hal Tabu di Perayaan Imlek

Saat perayaan Imlek ada banyak hal tabu yang tidak boleh dilakukan atau dibeli. Misalnya, tidak boleh membeli sepatu, buku, menangis, dan lain hal. 

Cap Go Meh merupakan penanda oerayaan Imlek telah usai, begitu pula dengan hal-hal yang dianggap tabu. (SJ/IN/R-01)


Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Biasakan berkomentar dengan nama yang jelas. Berkomentar dengan UNKNOWN atau SPAM akan dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

Back to Top