Kesenian Tradisional Bangsawan, Teater Rakyat Khas Melayu - INDEPHEDIA.com

Header Ads

Kesenian Tradisional Bangsawan, Teater Rakyat Khas Melayu

Salah satu setting adegan dan peran dalam Teater Bangsawan.


Sama halnya dengan kebanyakan seni teater tradisional di Indonesia, teater Bangsawan ini juga menyuguhkan tari, musik, silat, drama dan banyolan-banyolan segar sebagai bumbu untuk mengundang tawa para penontonnya.

INDEPHEDIA - Teater Bangsawan; Indra Bangsawan, atau ada juga yang menyebutnya Wayang Bangsawan adalah salah satu kesenian tradisional jenis teater khas Melayu. Di Indonesia, kesenian ini dapat dijumpai di Provinsi Kepulauan Riau, Jambi hingga Sumatera Selatan (Sumsel).

Sama halnya dengan kebanyakan seni teater tradisional di Indonesia, teater Bangsawan yang pertunjukannya hampir menyerupai "Dul Muluk" ini juga menyuguhkan tari, musik, silat, drama dan banyolan-banyolan segar sebagai bumbu untuk mengundang tawa para penontonnya.

Meskipun di negara melayu lainnya seni teater ini juga ada, seperti di Malaysia dan Brunai Darusalam, namun seni teater ini lebih lekat dengan kebudayaan Riau. Seni teater ini umumnya bercorak istanasentris, yang banyak menceritakan tentang kisah-kisah sultan melayu dan lingkungan kerajaan.


Sejarah Teater Bangsawan

Sejarah Bangsawan konon dimulai ketika masyarakat Persia berimigrasi ke India karena pertentangan ideology ditanah airnya. Namun menurut Ediruslan dan Hasan Junus (t.t) kedatangan rombongan Tetaer Bangsawan ke Pulau Penang pada tahun 1870 bukanlah dar Persia (Iran) tetapi warga Majusi yang melarikan diri ke India karena tidak mau di-Islam-kan.

Keturunan orang-orang Majusi yang banyak bermukim di Mumbay inilah yang akhirnya membawa Wayang Parsi ke Pulau Penang, kemudian pada tahun 1885-1902 menyebar ke seluruh semenanjung Malaysia, Kesultanan-kesultanan Melayu di riau, Sumatra Utara, dan Kalimantan Barat.

Tahun 1902-1935 diperkirakan zaman kegemilangan Teater Bangsawan. Pada tahun 1906 misalnya, tetaer ini masuk ke Riau melalui Pulau Penyengat, kemudian menyebar ke Utara dan Selatan serta wilayah pulau Pesisir. Di bagian utara dikembangkan oleh Raja Ahmad Ukur hingga ke Pulau Bungguran. Di Selatan hingga Daik Lingga dan Dabo Singkep sampai Bengkalis, Bagan Siapi-api, Selat Panjang, Siak Sri Indra Pura dan  Rengat (Indragiri). Di bagian Barat hanya sampai ke Tanjung Balai Karimun, Kundur dan Moro.

Selain di Provinsi Sumatera Selatan, dimana kelompok kesenian ini di sana yang terkenal dari Desa Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), jenis kesenian ini juga dapat ditemui di Kecamatan Muara Sabak Timur. Sesuai dengan namanya “Bangsawan”, pertunjukkan ini berceritera tentang kehidupan istana.

Teater rakyat ini di sini dikenal dengan nama “Panggung Bangsawan” karena setiap pertunjukkan menggunakan media panggung dan bercerita tentang kehidupan di sekitar istana yang menyajikan kisah seribu satu malam atau “sahibul hikayat”, demikian mereka menyebutnya.

Kesenian itu diperkirakan masuk ke Jambi bersamaan dengan penyebaran agama Islam. Biasanya para penyebar agama menyisipkan syiar-syiar Islam dalam cerita atau lakon bangsawan. Sampai saat ini, panggung bangsawan masih memainkan peranan sebagai media informasi dari pemerintah kepada masyarakat, misalnya dalam menyampaikan pesan untuk berkeluarga berencana, memelihara kebersihan lingkungan, bahkan pemilihan umum (pemilu), dapat disampaikan secara luwes oleh para pemainnya.

Dalam pertunjukannya, Panggung Bangsawan dimainkan kurang lebih 13 orang sebagai pelakon, yang terdiri atas peran seorang raja, seorang permaisuri, seorang putera mahkota, seorang puteri raja, seorang perdana menteri, seorang khadam, dan dua orang pengawal. pemain yang lain bertugas untuk inang dayang dan penari.

Selain pelakon, juga ada sedikitnya empat orang pemain musik yang memainkan alat, berupa biola, accordion, gendang, dan gong atau tawak-tawak. Untuk pemeran khadam, bertugas sebagai juru bicara kerajaan sekaligus penghibur keluarga istana.

Keluarnya pemeran ini paling dinanti oleh para penonton, karena kekocakannya dalam menyusun kata-kata sehingga mengusir kebosanan penonton dari keseriusan cerita yang disuguhkan. Peran khadam dalam setiap cerita dapat dikatakan sebagai peran utama dibandingkan dengan peran-peran yang lainnya.

Durasi pementasan panggung bangsawan pada zaman dahulu dapat menghabiskan waktu semalaman, yaitu dari selepas Isya sampai hampir waktu shubuh. Pada masa kini, waktu yang dibutuhkan untuk sekali pementasan tidak kurang hanya satu jam saja. menurut mereka hal ini disesuaikan dengan kebutuhan atau alokasi waktu yang diberikan dalam setiap kali pentas (nampil: mereka menyebutnya demikian).

Pada umumnya, untuk memahami cerita-cerita Panggung Bangsawan, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai sumber melalui medium penyampaiannya. Pertama, melalui teks tulisan baik berupa Hikayat, Syair, ataupun naskah Sejarah Melayu. Kedua, melalui teks lisan berupa Cerita Rakyat, Legenda, Mitologi yang disampaikan oleh penutur atau tukang cerita. Ketiga, melalui proses pemanggungan berupa teks pertunjukan di atas panggung.

Ketiga medium tersebut masing-masing memiliki perbedaan, tetapi yang lebih penting, semuanya berhubungan dengan audien yaitu publik pembaca atau pendengar atau penonton. Apabila berhubungan dengan publik, mau tidak mau publik tersebut dapat memberikan makna atau reaksi terhadap apa yang dihadapinya, baik secara spontan maupun melalui proses pentahapan.

Pada kenyataannya, sekarang ini panggung bangsawan sangat jarang “nampil” karena masyarakat pendukungnya kurang mengapresiasi teater rakyat tersebut.

Untuk pementasan panggung bangsawan menggunakan sebuah panggung untuk para pelakon bermain. Ukuran panggung tidak ada ketentuan baku. Di bagian belakang dipasang tirai atau layar yang akan diganti setiap tukar adegan, misalnya ketika para pelakon sedang beradegan di istana, maka layar akan menunjukkan suasana istana atau ketika para pemeran sedang ada di hutan layarnya pun harus disesuaikan dengan suasana di dalam hutan, dan seterusnya.

Pertunjukan yang disebut Rampai Cerita Wayang Bangsawan dipentaskan oleh beberapa Panggung Bangsawan di tanah Melayu. Di sini akan diperlihatkan bagaimana seorang sutradara dengan latar belakang sosial budayanya mementaskan hikayat, cerita rakyat, legenda, dan lainnya supaya memenuhi harapan penontonnya yang multietnis dan multikulutur. Di daerah ini, hikayat dan legenda diyakini penduduknya sebagai cerita sejarah dan dianggap sakral oleh para pendukungnya.

Selain itu, dalam rampai ini merupakan ringkasan cerita yang akan memperlihatkan bagaimana sang sutradara mewujudkan teks pertunjukan untuk mengubah resepsi hikayat kepada para penontonnya. Hikayat dan legenda adalah suatu cerita yang mencerminkan sikap kesetiaan penduduknya kepada khasanah budaya, sebagaimana hasil karya sastra lama yang masih terpelihara hingga saat ini (Sudjiman, 1995). Hasil karya tersebut tidak menyebutkan nama pengarangnya dan tahun berapa ia dikarang.



Lagu dan Tari:

Lagu-lagu pengiring Bangsawan biasanya Joget atau Zapin, seperti Stambul Dua, Stambul Opera dan Dondang Sayang

Cerita dan Kostum dalam Teater Bangsawan:
- Setiap cerita terdiri dari beberapa babak
- Dalam beberapa babak diselingi dengan sret atau selang waktu untuk - menceritakan babak berikutnya
- Kostum yang digunakan adalah tat rias yang menyerupai orang-orang dikalangan Bangsawan.


Tokoh Pemain:
- Sri Panggung (Pemain yang tercantik)
- Wira yang Heroik atau anak muda
- Pelawak jenaka dikenal sebagai Khadam
- Raja yang adil dan raja yang Zalim
- Permaisuri
- Para Mentri/datok-datok (Pejabat Istana)
- Tokoh Jin
- Pembantu lain, seperti Neng Kabayan, Inang, Dayang-dayang, Pengawal, Hulubalang


Dialog:
Menggunakan bahasa Melayu


Layar (Latar di Belakang Panggung):
Singgasan Istana atau keadaan istana


Perlengkapan dalam Teater Bangsawan:
Layar dengan setting istana. Pada umumnya Layar yang digunakan pada pementasan Bangsawan menggunakan layar lukisan istana dan dibentuk sedemikian rupa menyerupai suasana di Istana. Layar juga digunakan sebagai pengantian antar babak atau pergantian suasana setting yang berbeda seperti suasana di hutan, di perkampungan, di pantai, di perkarangan dan lain sebagainya. (BD/R-01)


No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).