-->

Cai Lun, Sang Penemu Kertas di Zaman Dinasti Han

 



INDEPHEDIA.com - Kertas sebenarnya sudah sejak lama difungsikan untuk mencatat segala sesuatu yang dianggap penting. Bahkan, saat ini kertas banyak digunakan berbagai keperluan. Tak hanya sebagai sarana tulis menulis tetapi juga sebagai bahan pembungkus, hiasan hingga tissue.

Sebelum kertas ditemukan, orang dulu menggunakan beragam material untuk mencatat sesuatu. Orang Mesir kuno menuliskan catatan di batang pohon, pada pinggiran tanah oleh orang Mesopotamia, pada kulit domba oleh orang Eropa dan lainnya.

Orang China kuno terinspirasi dari proses penggulungan sutra dan berhasil menemukan bahan kertas disebut bo yang terbuat dari sutra. Tapi, produksi bo ini sangatlah mahal dan langka.

Pada awal abad ke-2, Cai Lun berhasil menemukan kertas jenis baru yang terbuat dari kulit kayu, kain, batang gandum dan lainnya. Jenis kertas dari bahan ini relatif murah, ringan, tipis, tahan lama dan bisa digunakan untuk kuas.

Kemudian menyebar ke wilayah Korea, kemudian mencapai Jepang dan merambah ke negeri Arab pada masa Dinasti Tang hingga sampai ke Eropa pada abad ke-12.

Siapa Cai Lun Sang Penemu Kertas?

Cai Lun penemu kertas berkebangsaan Tionghoa yang hidup pada zaman Dinasti Han, abad ke-2 Masehi. Cai Lun yang bernama lengkap Cai Jingzhong (sering pula dipanggil Jingzhong) dilahirkan di Guiyang, salah satu wilayah di Provinsi Hunan, China.

Dunia mengakui bahwa Cai Lun mempunyai sumbangan begitu besar bagi dunia percetakan, tulis menulis, dan penerbitan karena dialah yang telah menemukan kertas.

Dia seorang kasim China yang bekerja sebagai pegawai negara pada pengadilan kekaisaran. Meskipun kertas buatannya belum sesempurna sekarang, tetapi Cai Lun diakui sebagai penemu kertas secara tradisional.

Ide Penemuan Kertas
 
Pada zaman dulu, tulisan umumnya dilakukan pada tablet bambu atau potongan sutra yang disebut bo atau ada juga yang menyebutnya chih. Karena harga sutra yang mahal dan beratnya bambu, menjadikan kedua alat tersebut tidak nyaman untuk digunakan.

Berdasarkan masalah ini, Cai Lun lalu mencari ide untuk membuat kertas dari kulit pohon. Cai Lun selanjutnya membuat kertas dari kulit kayu murbei, dengan cara bagian dalam kulit kayu direndam di air dan dipukul-pukul, sehingga seratnya lepas.

Bersama dengan kulit, direndam juga bahan rami, kain bekas, dan jala ikan. Setelah direndam dan menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur, sehingga jadilah kertas meskipun kualitasnya belum sebaik saat ini.

Pada tahun 105 M, Cai Lun mempersembahkan contoh kertas buatannya pada Kaisar Han Hedi. Catatan tentang penemuan kertas ini terdapat dalam penulisan sejarah resmi Dinasti Han.

Karena penemuannya tersebut, Cai Lun kemudian naik pangkat, mendapat gelar kebangsawanan dan menjadi cukong. Penemuan kertas oleh Cai Lun ini berpengaruh pada negara-negara di Asia Timur. Kertas menjadi banyak digunakan sebagai media menulis di Cina pada abad ke-3.

Hal Ini memungkinkan China untuk mengembangkan peradabannya melalui sastra dan literasi, jauh lebih cepat daripada menggunakan bahan penulisan yang sebelumnya, yaitu  bambu dan sutra.

Teknik pembuatan kertas China telah menyebar ke Korea, Vietnam, dan Jepang pada abak ke-7. Pada awalnya, Cina sangat merahasiakan teknik pembuatan kertas ini. Terlebih, ketika itu tidak semua bangsa mampu membuat kertas.

Rahasia membuat kertas terkuak sekitar tahun 750 setelah tenaga ahli pembuat kertas menjadi tawanan orang-orang Arab, sehingga dalam waktu singkat kertas mampu diproduksi di Bagdad dan Sarmarkand.

Teknik pembuatan kertas akhirnya menyebar ke seluruh dunia Arab dan baru di abad ke-12 orang-orang Eropa belajar teknik ini. Ketika kertas pertama kali diperkenalkan ke Eropa di abad ke-12, secara bertahap telah merevolusi cara komunikasi tertulis orang-orang saat itu. (KTS/IN/*)


Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Biasakan berkomentar dengan nama yang jelas. Berkomentar dengan UNKNOWN atau SPAM akan dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top